- Back to Home »
- PLURALISME DUA IDEOLOGI
Oleh: Imam Aji Subagyo
Selesai: 26 Feb. 11
Suatu ketika saya mendengarkan penuturan Guru Besar Saya (Seorang Kyai). Beliau menuturkan tentang bagaimana menghormati orang lain. Yang intinya, adlah bahwa untuk dapat menghormati orang lain, kita harus merendahkan ego kita dan mencari bagian-bagian baik yang masih dapat disingkap dari orang tersebut. Sebagai contoh: apabila kita bertemu dengan anak kecil, maka kita tidak melihat dia secara fisik kecil dan belum mampu berbuat apapun, belum lagi mempenyuai pendidikan yang memadai daripada kita. Namun coba kita lihat dengan sudut pandang lain, bahwa anak tersebut belum memiliki kesalahan (dosa.red) sebanyak yang kita miliki. Dengan arti lain dia masih lebih suci dari kita. Begitu juga sebaliknya, bila kita bertemu dengan orang Tua. Mungkin jika kita menilai secara fisik, orang tua ini sudah tidak mampu lagi berbuat banyak, renta dan hanya bisa mengandalkan bantuan orang lain. Tapi kembali coba kita lihat dari sisi yang berbeda. Orang ini sudah tua, dia pasti memiliki pengalaman yang lebih banyak, karena dia lebih lama hidup di dunia ini, tentu saja kata-katanya akan lebih bijak.
Dengan sudut pandang semacam itu kita akan mampu memiliki pikiran yang positif terhadap orang lain, atau dengan kata lain khusnudzon (arab). Kemudian apabila pendapat tersebut kita terapkan dalam kehidupan berbangsa. Apabila pemahaman ini kita aplikasikan dalam konteks kehidupan beragaman di Indonesia, maka yang terjadi adalah sikap saling menghormati antara satu kelompok dengan kelompok lain, karena satu sama lain saling berusaha mencari nilai positif yang ada pada kelompok lain. Dan dengan prinsip seperti ini maka konflik-konflik yang ada dapatlah diminimalisis sedikit mungkin.
Sejalan dengan prinsip diatas, pada suatu ketika dosen saya (seorang katolik) menceritakan tentang pemikiran belia tentang bentuk pluralisme. Menurut beliau konflik-konflik yang terjadi di indonesia ini diakibatkan karena setiap kelompok saling mengeksklusifkan diri mereka masing-masing. Saling menganggap diri mereka adalah yang paling benar, dan yang ain adalah salah. Dan yang salah ini harus di benarkan, atau yang lebih ekstrim harus disingkirkan.
Dalam prespektif dosen saya ini, sikap saling mengeklusifkan diri masing-masing harus di hilangkan untuk dapat menghormati minimal orang lain. Dengan kata lain, sesuai tulisan awal yang diatas, kita diminta menurunkan ego kita supaya dapat menghormati orang lain. Lebih jauh lagi, beliau mengungkapkan bahwa agar perbedaan itu terlihat indah, kita harus keluar dari eksklusifitas pribadi agar dapat memandang semuanya dan menjadi indah. Seperti apabila kita ingin memandang sebuah kota menjadi indah, maka yang kita harus keluar dari kota tersebut dan memandangnya dari atas sebuah bukit yang menghadap kota (bukit bintang: yogyakarta) dan terpampanglah pemandangan kerlap-kerlip lampu kota yang indah.
Apa yang dapat kita simpulkan? Menurut saya, kita harus saling menghormati. Dalam prespektif kondisi muslim sekarang, kita hendaklah tidak dengan mudah mengharamkan, membidahkan, mengkafirkan, menyalahkan dan sebagainya. Carilah sebuah nilai positif untuk menghormati sisi keindonesiaan. Yang mana dalam sisi keindonesiaan adalah nilai Bhineka Tunggal Ika, yang merupakan manifestasi sikap keberagaman masyarakat kita yang harusnya kita jaga sebagai salah satu kekayaan bangsa yang harus kita jaga.