- Back to Home »
- Artikel Pendidikan »
- Keramahan yang tak luntur
Indonesia dikenal akan masyarakatnya yang toleran, berbudi, baik hati, suka menolong, dan tentu murah senyum. Sudah banyak buktinya, bahkan agama terbesar di indonesia, yaitu Islam oleh masysrakat barat mendapat julukan sebagai Islam with a smiling face. Wow julukan yang sangat membanggakan kan bagi masayrakat muslim indonesia. Namun keramahan yang begitu indah ini, sedikit ternoda oleh beberapa bagian masyarakat negeri ini yang mungkin belum memiliki kesadaran atau lupa akan keramahan kita sebagai bangsa ini. Hingga banyak konflik yang terjadi dimana-mana dan coba bayangkan bahwa pelakunya juga manusia indonesia yang terkenal ramah tersebut. Banyak pihak yang menganggap bahwa keramahan, rasa toleransi, dan sikap tolong-menolong bangsa kita sudah luntur. Benarkah demikian?
Bermaksud berbagi cerita dan pengalaman saja. Pada tanggal 7 November 2011, hari senin pagi, Aku berangkat ke jogja untuk sekedar kuliah di siang harinya. Berangkat dari rumah pukul 06.00, dan berangkat melalui jalur selatan dengan maksud untuk menghemat waktu saja. Ya karena jalur selatan terkenal sepi dan lebih dekat jarak tempuhnya. Perjalanan menggunakan sepeda motor, seperti perjalanan biasanya ke jogja. Perjalanan pada awalnya berjalan lancar, disambut pagi yang indah, meski bernaung dalam kelabu mendung, dan sedikit dinginnya alam. Jalan dilalui sedikit demi-sedikit, sejengkal demi sejengkal. Perjlanan sampai pada daerah ketawang, purworejo selatan. Tiba-tiba grimis datang, maka sepeda motor ku peinggirkan jok motor ku buka dengan maksud mengeluarkan jas hujan dan memakainya. Usai kupakai jas hujan tersebut lansung saja jok motor kembali kututup. Dengan perasaan mantap kunaiki motor ku lagi. Hem tapi ternyata saat akan kunyalakan lagi, tak kutemukan kunci motorku. Ku cari dan ku cari, wah-wah ternyata tak kutemukan dimanapun. Kemudian aku berasumsi kalau-kalau kunci tersebut tertinggal di dalam jok motor. Kemudian motorku ku tuntun ke rumah terdekat. Dengan senyum yang begitu ramah, sang pemilik rumah membantuku. Sebenarnya bukan rumah, lebih tepat counter saja. Tapi dengan bersemangat pemilik rumah membantuku. Dengan hanya berbekal 1 buah obeng, dan itu juga gagal. Di rumah itu juga terdapat seseorang lainnya yang sedang berteduh, bapak tersebut menyarankan bengkel yang terletak sekitar 200 meter . dengan semangat membara ku tuntun motorku ke bengkel tersebut di bawah guyuran hujan yang tadi sempat deras, dan sekarang sudah agak mendingan. Di tengah jalan, bapak yang tadi menunjukan tempat dimana bengkel berada menyusulku dan menawariku untuk mampir di rumahnya. Karena aku mengejar waktu kuliah, maka dengan halus aku menolaknya, kemudian bapak tersebut pun berkata “oh ge mpun nek ngaten”. Sedikit merasa bersalah juga menolak tawaran beliau yang baik hati. Motor kembali kudorong dengan semangat membara lagi, melewati sebuah rumah yang ada pemiliknya sedang bersantai di depan rumah. Beliau pemilik rumah memanggilku dan mempersilakan aku untuk mampir. Karena waktu pula twaran itu ku tolak dengan sopan. Wah aku mengecewakan dua orang nie pagi ini. Semoga mereka memaklumi keadaanku. Motor kudorong lagi. Nah kali ini ada pengendara motor lain yang baik hati, menawari mendorong motorku. Tanpa kusia-siakan kesempatan ini. Pengendara tersebut pun dengan bahagianya bisa membantuku, mengajakku bicara selagi mendorong motor. Hingga tak terasa bengkel pun sudah ada di depan mata. Pengendara itu pamit melanjutkan perjalanan, dan akau megucapkan terimakasih. Di bengkel pemilik bengkel sedang sibuk. Dia hanya memberikan peralatannya, dan akau diminta membongkar sendiri. Dan akhirnya aku lakukan dengan susah payah. Melihat diriku yang kesusahan ini, seorang pengemudi truk yang truknya sedang diperbaiki menawarkan bantuan. Tentu saja tak kutolak lagi kali ini. Kami bahu membahu, hingga akhirnya bisa mengeluarkan kunci dari sepeda jok motorku dan menyalakan motorku lagi. Dengan sangat bahagia, semua insan di bengkel tersebut ku salami satu-persatu dan mengucapkan terimakasih. Dan perjalanan pun kulakukan. Sungguh orang-orang pinggiran dengan hati mulia. Marginal people with brave heart. subhanAllah. Diantara angkuhnya sebagian dari kita, mereka masih terbuka akan senyum, dan bahagia dengan kebaikan. Luar Biasa