- Back to Home »
- Malam Terakhir
Posted by :
Imam Aji Subagyo
Senin, 15 Oktober 2012
Terasa begitu lama jari ini tak menari di atas untaian tombol-tombol berisi huruf dan angka yang berwaran hitam. Tak hanya lama bahkan terlampau lama.hingga beberapa jentikan jari ini bahkan lupa harus menyentuh yang mana. Tak hanya jari yang terlupa, akalkupun tak mau berkompromi barang sedikit untuk bisa menuliskan secuil ide dalam tulisan pagi ini.
Aku masih berusaha dan berusaha, ditemani tubuh-tubuh bernyawa yang bergelimpangan dan tergeletak tak berdaya di sekitarku. Agaknya mentari mungkin sudah mengintip diluar sana, namun dari sini senyum genit mentari tak nampak sumringah.
Yah mungkin karena tembok-tembok embatas ini yang sedimikian angkuhnya sehingga tak mengijinkan hangat sapaan mentari membelaiku pagi ini.
Baiklah kita mulai saja dari semalam. Ada sesuatu yang menarik, seolah sudah tertata dan disekenario sedimikan rupa. Semalam malam minggu 6 Oktober 2012, adalah malam yang sama seperti biasanya.
Dimulai dengan orprak-oprak mujahadah, kemudian mujahadah maghrib, dan ngaji. Tak ada yang spesial, namun ada yang berbeda, udah gitu ajah? Terus gue musti koprol sambil bilang wow gitu??
Ngaji pertama malam minggu, Ulumul Quran. Ngaji berformat diskusi adalah cirikhas kami di kelas Alfiah 2. Nah ngaji pertama yang biasanya serius, dan memang harus serius karena tidak ada bahan lelucon untuk gue musti bilang wow, secara Ulumul Quran Bro. Tapi ketika Kang Amin Bahktiar mulai melantunkan Bab Makiyah wa madaniyyah semua berubah, suasana begitu ramai akan canda, penuh akan tawa dan sumringah akan senyum bahagia.
Begitupula ketika ajang beradu pendapat, kemasan yang menarik itu berlanjut, Ustadz Rizal Afifi yang memandu juga tak kalah hebat tertawanya. Trus sekarang Gue Musti bilang Wow deh.
Ngaji berikutnya, Alhamdulillah Kosong. Namun diskusi tetap terjadi, Alfiah Ibnu Malik bab mafngul muthlaq. Rupaya kemasan asyik di awal masih berlanjut disini. Wuih malah lebih parah den. Sampe gak ada yang ngantuk, padahal biasane podo sumare (tidur-red).
Nah ngaji terakhir ni klimaksnya. Karena kosong pak ketua kami yang ngisi. Kang Luthfi Nurcahyono,S.H, M.H.I. tapi bukan ngisi ngaji malah pamitan boyongan. Waduwh gawat. Kemudian beliau mengucapkan kata-kata terkhirnya sebagai seorang ketua kelas. Wah kelas jadi ada kesan terharu-terharu gimana gitu.
Bagaimana kami tidak terharu, melepas seorang yang selalu memberi motivasi saat dikelas sedang tak ada motivasi belajar. Menjadi pionir dalam menggerakkan roda intelektualitas di kelas. Orang yang tampangnya kaya gini ini ternyata udah mau pergi. Kemudian beberapa santri yang lain pun mengucapkan salam perpisahan dengan menyampaikankesan dan pesan mereka.
Mas Bro, meskipun jauh dimata tetapi tetap dihati (kata kang edi). Lebay juga. Mas bro, berkelilinglah sampai ke ujung dunia, bahkan pojokan bulan tapi jangan lupa kita pernah bersama disini (kata Kang Habib) Alay. Tapi Mas Bro, satu kata untuk mu, waktu beberapa tahun yang sebentar, adalah ukiran kenangan yang menawan, jika dijual mungkin para dep colector (kalo tulisannya bener) akan menawarnya dengan harga selangit. Waktu yang sebentar ini, memberikan nuansa lain dihati. Lebay lagi.
Ya sudahlah, selamat jalan. Capai tujuanmu, gapai cita-citamu. Jangan lupa undangannya.
