Orientasi Guru Belajar seri Masa Pandemi Covid-19

 

Jakarta 1/10/2020 Menteri Nadiem membuka Orientasi Guru Belajar Seri Masa Pandemi Covid-19, berikut Sedikit Paparan yag beliau sampaikan:

Kebijakan Mengenai Penambahan Pembukaan Sekolah Tatap Muka di Zona Kuning

Kurikulum PJJ

1. Kendala PJJ Tentang antara Guru, Orangtua, Siswa

2. Penyediaan Bimtek, Webinar, dan Relaxasi BOS

3. Dampak Negatif Berkepanjangan PJJ (Terjadi Loss Generation)

4. Prinsip Kebijakan Pendidikan dimasa Pandemi Covid-19 (Kesehatan dan Keselamatan, Tumbuh Kembang Anak)


Solusi PJJ

1. Perluasan Pembelajaran Tatap Muka untuk Zona Kuning dan Hijau

2. Untuk madrasah dan sekolah berasrama pembukaan secara bertahap

3. SMK disemua zona diperkenankan ke sekolah hanya untuk melakukan pembelajaran Praktik


Pembelajaran Tatap Muka dengan protokol Kesehatan

1. Kapasitas maksimal masing-masing jenjang terbatas

2. wajib melaksanakan Protokol Kesehatan

3. Kegiatan Olahraga dan Esktrakulikuler tidak diperkenankan

4. Implementasi dan Evaluasi Tatap Muka adalah tanggung jawab Pemda yang didukung Pemerintah Pusat


Fokus Kebijakan Baru

1. Kurikulum Darurat semua Jenjang

2. Pelaksanaan Kurikulum Berlaku Sampai Akhir Pelajaran

3. Tidak Wajib Satuan Pendidikan Menggunakan Kurikulum Darurat


Disiapkan Modul untuk


RELAKSASI PERATURAN UNTUK GURU

1. Tidak diharuskan Memenuhi Beban Kerja 24 JP/minggu

2. Diperlukan Kerjasama dari Semua Pihak untuk Kelangsungan Pembelajaran di masa Pandemi

3. Kurikulum 

Kamis, 01 Oktober 2020
Posted by Imam Aji Subagyo

MENGUKUHKAN KEMBALI GHIROH AHLUS SUNNAH


 Tanjungpinang-19/09/2020-Selepas ashar sekitar pukul 15.30 saya mendapatkan telepon dari kang Zainun (Ketua Ansor TPI), suaranya nampak tergesa-gesa dan diiringi kekhasan nadanya. Dibalik speaker Telepon itu dia berkata; "Ayo kang, ganti klambi, trus mangkat nang CK" katanya dalam telepon. wah ada sesuatu yang penting ni, ujarku. bergegaslah aku mengambil baju Ansor ku dan segera berpamitan dengan anak dan istriku, ku starter motor vario putih butut ku.

Tak berselang lama aku pun sampai di CK (hotel terbesar di Tanjungpinang), letaknya tak jauh dari rumahku, hanya berjarak kurang lebih 5 menit. disana kawan-kawan ansor lain telah menanti, sebagian mereka sudah masuk kedalam dan sebagian lagi masih asyik dengan sepuntung rokok di mulutnya.

sore ini CK begitu ramai, hilir mudik para peserta MTQ tingkat Provinsi Kepulauan Riau membuat semarak suasana. ya memang hari itu adalah pembukaan MTQ Tingkat Provinsi kepulauan Riau, sebagian.

singkat cerita, tujuan kami ke Hotel CK adalah bersilaturahmi dengan Wamenag Zainut Tauhid, yang pada kesempatan itu beliau mewakili Bapak Menag yang berhalangan Hadir untuk Membuka MTQ tingkat Kepulauan Riau.

dalam ramah tamah itu beliau banyak berpesan kepada kami, selaku generasi Muda Nahdlatul Ulama. diantara pesan-pesan beliau yang paling berbekas adalah sebagai berikut:


1. Ditengah moderasi dan arus faham liberal yang sangat deras, seyogyanya sebagai generasi muda NU, Harus siap menghadapi tantangan dan mampu bersaing.

2. Sikap warga nahdliyin harus senantiasa berada ditengah (Washaton) dalam tiap konflik

3. Menjaga Marwah kebangsaan senantiasa harus diutamakan di tengah gelombang faham radikal

Senin, 21 September 2020
Posted by Imam Aji Subagyo
Tag :

Syahrul Arbaiina Hadist An nawawi 2 : Iman, Islam dan Ikhsan 'Sebaiknya, seharusnya, dan Keindahannya'

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .  
[رواه مسلم]
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
(Riwayat Muslim)
Selasa, 09 Juni 2015
Posted by Imam Aji Subagyo

Syahrul Arbaiina Hadist An nawawi 1 : Niat dan Ikhlas 'dalam bingkai kebangsaan'

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Hadist Pertama dalam kitab hadist kecil Imam Nawawi ini adalah salah satu hadis yang sangat populer, hampir setiap kitab fiqih karangan para salafus sholihin selalu menggunakan hadist ini di awalnya. Hadist pertama ini memang sangat menarik jika di tinjau dalam banyak prespektif dan tak lekang oleh waktu, karena bahasannya tentang ikhlas dan niat. terlebih niat dan ikhlas jika dilihat dari sudut pandang kebangsaan dan kenegaraan.
Pengajar Muda SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terluar Terdepan Tertinggal) di Malinau Kalimantan Utara 2014

Konteks Niat dan Ikhlas dalam berbangsa dan bernegara antara lain adalah sebagai berikut:
  
1. Niat memajukan bangsa Indonesia 
"Hubbul wathon minal iman" cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Dilihat dalam kacamata ukhuwah, sebenarnya, ukhuwah itu dapat dibedakan menjadi beberapa. (1) Ukhuwah Islamiah 'persaudaraan sebangsa', (2) Ukhuwah Wathoniyah 'Persaudaraan sebangsa', (3) Ukhuwah Bashariyah 'Persaudaraan Sesama manusia'.

Niatkanlah setiap langkah kita dalam membangun dan memajukan bangsa adalah karena Allah dalam rangka mewujudkan Ukhuwah yang kedua yaitu "Ukhuwah Wathoniyah" serta mengaplikasikan sebagian Iman kita.

2. Ikhlas dalam berbangsa dan berngara Indonesia
Salah satu kutipan Kata-kata Almarhum Almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) adalah 'kita orang Indonesia yang beragama Islam bukan Orang Islam yang Hidup di Indonesia'.

Gusdur Mencoba mengingatkan kita bahwa Allah menghendaki kita lahir di Bumi Indonesia, maka kita harus senantiasa Ikhlas dan menerima keadaan kita ini sebagai anugerah Allah SWT. karena lahir di Bumi Pertiwi merupakan Anugerah, maka sudah selayaknyalah kita harus senantiasa menjaga Negeri ini dengan sebaik-baiknya.

oleh: Imam Aji Subagyo
Minggu, 10 Mei 2015
Posted by Imam Aji Subagyo
Tag :

Omdi Belajar Ikhlas

Omdi Belajar Ikhlas, Religi

Ditengah-tengah masyarakat Nashrani di Desa Sempayang dan Sesua berdiri sebuah bangunan Masjid kecil. Masjid ini tidak besar hanya berukuran 6x7 m. Mungkin tidak nampak dan tidak seharusnya di sebut masjid, mungkin nama mushola lebih cocok disematkan kepadanya. Tapi ada semangat yang membuat masjid yang terletak di jalan poros Kaltim ini nampak begitu besar. Semangat untuk terus menghidupkan hari-harinya.

Adalah Bapak Supandi, pengajar ngaji yang juga Imam masjid ini. Beliau bekerja di Dinas Petamanan dan Tata kota dengan gaji yang jika dihitung dengan harga kebutuhan masyarakat di kalimantan ya cukup saja. Ilmu agamanya mungkin juga tidak seberapa,, namun semangat menghiupkan masjid ini yang luar biasa.

Keluarga Bapak Supandi biasa kami panggil Omdi memng tidak kaya. Namun kerelaan berkorban dan menfasilitasi anak-anak untuk selalu belajarlah yang membuatnya kaya dengan hati. Ada hal yang patut diteladani, sebagai pendidik.

Bayangkan bahawa kita mendidik, bukan mengajar. Mendidik adalah mendorong seseorang supaya terdidik. Baik terdidik secara sosial, rasional, moral, bahkan spiritual. Namun pernahkah kita pahami bahwa kegagalan pendidikan kita selalu hanya pada beberapa sisi saja, yaitu pada sisi moral dan spiritual. Pelajar kita bahkan bisa dikatakan tidak bermoral. Pejabat yang berasal dari kasta pendidikan tertinggi pun kurang lebih sama dengan para berandal tak terpelajar. Lalu apa yang keliru dari model pendidikan kita?

Rupanya dari kisah omdi ini kutemukan beberapa jawaban. Jawabannya adalah Rasa Keikhlasan dalam mendidik. Nampak sederhana namun sangat mendalam. Selama ini kita sebagai pengajar selalu berorientasi pada materi. Mengajar adalah sebuah pekerjaan, dan pekerjaan harus mendapat upah yang layak. Coba kita bandingkan dengan guru ngaji kita ini yang bahakan tidak digaji. Beliau mendidik dan mengajar dengan landasan keikhlasan.

Suatu ketika saya bermaksud mengusulkan Honor beliau kepada kemenag. Karena memang di kabupaten Malinau Ustazd mendapat honor bulanan, namun pada kenyataannya beliau berkata “wah nanti saya pamrih dan tidak ikhlas lagi dong”. Sebuah jawaban sederhana yang membangunkan nurani kita sebagai Guru. Mendidik harus dari hati, bukan hanya menagajarkan ilmu saja, namun rupanya untuk membuat seseorang menjadi baik adalah hati dan keikhlasan yang lebih didahulukan bukan mengejar kepintaran anak.

Sebuah pelajaran kecil berharga, bahwa mengajarlah dari hati. Mengajar itu membuat orang pintar, namun jika hati ikut mendidik maka bukan hanya pintar tapi benar.
 
Oleh : Imam Aji Subagyo
Selasa, 21 April 2015
Posted by Imam Aji Subagyo

Malam Terakhir

Terasa begitu lama jari ini tak menari di atas untaian tombol-tombol berisi huruf dan angka yang berwaran hitam. Tak hanya lama bahkan terlampau lama.hingga beberapa jentikan jari ini bahkan lupa harus menyentuh yang mana. Tak hanya jari yang terlupa, akalkupun tak mau berkompromi barang sedikit untuk bisa menuliskan secuil ide dalam tulisan pagi ini.
Aku masih berusaha dan berusaha, ditemani tubuh-tubuh bernyawa yang bergelimpangan dan tergeletak tak berdaya di sekitarku. Agaknya mentari mungkin sudah mengintip diluar sana, namun dari sini senyum genit mentari tak nampak sumringah. 

Yah mungkin karena tembok-tembok embatas ini yang sedimikian angkuhnya sehingga tak mengijinkan hangat sapaan mentari membelaiku pagi ini. Baiklah kita mulai saja dari semalam. Ada sesuatu yang menarik, seolah sudah tertata dan disekenario sedimikan rupa. Semalam malam minggu 6 Oktober 2012, adalah malam yang sama seperti biasanya. 

Dimulai dengan orprak-oprak mujahadah, kemudian mujahadah maghrib, dan ngaji. Tak ada yang spesial, namun ada yang berbeda, udah gitu ajah? Terus gue musti koprol sambil bilang wow gitu?? Ngaji pertama malam minggu, Ulumul Quran. Ngaji berformat diskusi adalah cirikhas kami di kelas Alfiah 2. Nah ngaji pertama yang biasanya serius, dan memang harus serius karena tidak ada bahan lelucon untuk gue musti bilang wow, secara Ulumul Quran Bro. Tapi ketika Kang Amin Bahktiar mulai melantunkan Bab Makiyah wa madaniyyah semua berubah, suasana begitu ramai akan canda, penuh akan tawa dan sumringah akan senyum bahagia. 

Begitupula ketika ajang beradu pendapat, kemasan yang menarik itu berlanjut, Ustadz Rizal Afifi yang memandu juga tak kalah hebat tertawanya. Trus sekarang Gue Musti bilang Wow deh. Ngaji berikutnya, Alhamdulillah Kosong. Namun diskusi tetap terjadi, Alfiah Ibnu Malik bab mafngul muthlaq. Rupaya kemasan asyik di awal masih berlanjut disini. Wuih malah lebih parah den. Sampe gak ada yang ngantuk, padahal biasane podo sumare (tidur-red). Nah ngaji terakhir ni klimaksnya. Karena kosong pak ketua kami yang ngisi. Kang Luthfi Nurcahyono,S.H, M.H.I. tapi bukan ngisi ngaji malah pamitan boyongan. Waduwh gawat. Kemudian beliau mengucapkan kata-kata terkhirnya sebagai seorang ketua kelas. Wah kelas jadi ada kesan terharu-terharu gimana gitu. 

Bagaimana kami tidak terharu, melepas seorang yang selalu memberi motivasi saat dikelas sedang tak ada motivasi belajar. Menjadi pionir dalam menggerakkan roda intelektualitas di kelas. Orang yang tampangnya kaya gini ini ternyata udah mau pergi. Kemudian beberapa santri yang lain pun mengucapkan salam perpisahan dengan menyampaikankesan dan pesan mereka. 

Mas Bro, meskipun jauh dimata tetapi tetap dihati (kata kang edi). Lebay juga. Mas bro, berkelilinglah sampai ke ujung dunia, bahkan pojokan bulan tapi jangan lupa kita pernah bersama disini (kata Kang Habib) Alay. Tapi Mas Bro, satu kata untuk mu, waktu beberapa tahun yang sebentar, adalah ukiran kenangan yang menawan, jika dijual mungkin para dep colector (kalo tulisannya bener) akan menawarnya dengan harga selangit. Waktu yang sebentar ini, memberikan nuansa lain dihati. Lebay lagi. Ya sudahlah, selamat jalan. Capai tujuanmu, gapai cita-citamu. Jangan lupa undangannya.
Senin, 15 Oktober 2012
Posted by Imam Aji Subagyo

MENJUAL . . .???

"Jakarta (ANTARA News) - Setelah sukses menyelenggarakan program Dai Cilik 2011, stasiun televisi swasta nasional ANTV kini menggelar acara pencarian bakat serupa, namun kali ini dengan peserta kaum muda usia 17-25 tahun. Dalam rangka meningkatkan pendidikan agama di kalangan muda dan untuk meningkatkan kualitas pendakwah muda bagi masyarakat, maka kami mengadakan program "Dai Muda Pilihan Bersama Mie Sedap" ini, kata Presiden Direktur ANTV, Dudi Hendrakusuma, dalam siaran pers yang diterima ANTARA, Sabtu." Dai adalah sebutan atau julukan untuk para pendakwah agama islam. Tugas mereka adalah menyebarkan syariat sesuai dengan tuntunan agama islam :
125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

tugas yang teramat mulia memang. Akhir-akhir ini sebuah fenomena menarik sedang merebak dalam percaturan masyarakat kita. terutama dengan maraknya dai-dai muda yang tampil layaknya artis. mereka nampak elegan, kaya, tampan-tampan, dan "Soleh". sampai disitu? tentu tidak, layaknya seorang artis dai-dai ini pun rajin tampil dalam tayangan infotaiment.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah bukan sesuatu yang berbau kesederhanaan dan teladan yang mereka tampilkan, namun mobil baru, rumah baru, motor besar baru, bahkan ada yang mengenalkan "Pacar Barunya". hmmmm.... pro kontra kontra pun bermunculan dalam kalangan akademisi muslim (santri-red) tentang pergelaran dai-dai yang sedang populer di televisi.

salah satunya terkait materi da'wah yang terkadang masih sedikit dangkal dan juga tentang komersialisasi agama. dalam teori media, apa yang ditampilkan dalam TV selalu tidak lepas dari sisi komersialisasi, dan mungkin saja terdapat unsur politis di dalamnya. bayangkan saja jika sorang dai tampil dan memberikan "tausiyah" dan dia tampil dalam acara di televisi berapa yang akan dia dapat jika dalam satu kali tampil dengan durasi 30 menit jika dibandingkan dengan progam berita dengan durasi yang sama menghasilkan pendapatan bersih 1,5 milyar. wah saya sendiri sepertinya langsung mendaftar haji dan umroh tahun depan nie ..... he he yah setidaknya mari refleksi diri kita masing-masing. ini hanya sekedar tulisan saja. jangan dianggap serius...
Minggu, 15 Januari 2012
Posted by Imam Aji Subagyo

Inspirasi

"Nglomani wong medit, Ngancani Mungsuh, Ngapura Marang sing nglarani"

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Majer Kawuryan - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -