Posted by : Imam Aji Subagyo Minggu, 10 Mei 2015

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Hadist Pertama dalam kitab hadist kecil Imam Nawawi ini adalah salah satu hadis yang sangat populer, hampir setiap kitab fiqih karangan para salafus sholihin selalu menggunakan hadist ini di awalnya. Hadist pertama ini memang sangat menarik jika di tinjau dalam banyak prespektif dan tak lekang oleh waktu, karena bahasannya tentang ikhlas dan niat. terlebih niat dan ikhlas jika dilihat dari sudut pandang kebangsaan dan kenegaraan.

Pengajar Muda SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terluar Terdepan Tertinggal) di Malinau Kalimantan Utara 2014

Konteks Niat dan Ikhlas dalam berbangsa dan bernegara antara lain adalah sebagai berikut:
  
1. Niat memajukan bangsa Indonesia 
"Hubbul wathon minal iman" cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Dilihat dalam kacamata ukhuwah, sebenarnya, ukhuwah itu dapat dibedakan menjadi beberapa. (1) Ukhuwah Islamiah 'persaudaraan sebangsa', (2) Ukhuwah Wathoniyah 'Persaudaraan sebangsa', (3) Ukhuwah Bashariyah 'Persaudaraan Sesama manusia'.

Niatkanlah setiap langkah kita dalam membangun dan memajukan bangsa adalah karena Allah dalam rangka mewujudkan Ukhuwah yang kedua yaitu "Ukhuwah Wathoniyah" serta mengaplikasikan sebagian Iman kita.

2. Ikhlas dalam berbangsa dan berngara Indonesia
Salah satu kutipan Kata-kata Almarhum Almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) adalah 'kita orang Indonesia yang beragama Islam bukan Orang Islam yang Hidup di Indonesia'.

Gusdur Mencoba mengingatkan kita bahwa Allah menghendaki kita lahir di Bumi Indonesia, maka kita harus senantiasa Ikhlas dan menerima keadaan kita ini sebagai anugerah Allah SWT. karena lahir di Bumi Pertiwi merupakan Anugerah, maka sudah selayaknyalah kita harus senantiasa menjaga Negeri ini dengan sebaik-baiknya.

oleh: Imam Aji Subagyo

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Inspirasi

"Nglomani wong medit, Ngancani Mungsuh, Ngapura Marang sing nglarani"

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Majer Kawuryan - Metrominimalist - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -