- Back to Home »
- Religius »
- Omdi Belajar Ikhlas
Posted by :
Imam Aji Subagyo
Selasa, 21 April 2015
Ditengah-tengah masyarakat Nashrani di Desa Sempayang dan Sesua berdiri sebuah bangunan Masjid kecil. Masjid ini tidak besar hanya berukuran 6x7 m. Mungkin tidak nampak dan tidak seharusnya di sebut masjid, mungkin nama mushola lebih cocok disematkan kepadanya. Tapi ada semangat yang membuat masjid yang terletak di jalan poros Kaltim ini nampak begitu besar. Semangat untuk terus menghidupkan hari-harinya.
Adalah Bapak Supandi, pengajar ngaji yang juga Imam masjid ini. Beliau bekerja di Dinas Petamanan dan Tata kota dengan gaji yang jika dihitung dengan harga kebutuhan masyarakat di kalimantan ya cukup saja. Ilmu agamanya mungkin juga tidak seberapa,, namun semangat menghiupkan masjid ini yang luar biasa.
Keluarga Bapak Supandi biasa kami panggil Omdi memng tidak kaya. Namun kerelaan berkorban dan menfasilitasi anak-anak untuk selalu belajarlah yang membuatnya kaya dengan hati. Ada hal yang patut diteladani, sebagai pendidik.
Bayangkan bahawa kita mendidik, bukan mengajar. Mendidik adalah mendorong seseorang supaya terdidik. Baik terdidik secara sosial, rasional, moral, bahkan spiritual. Namun pernahkah kita pahami bahwa kegagalan pendidikan kita selalu hanya pada beberapa sisi saja, yaitu pada sisi moral dan spiritual. Pelajar kita bahkan bisa dikatakan tidak bermoral. Pejabat yang berasal dari kasta pendidikan tertinggi pun kurang lebih sama dengan para berandal tak terpelajar. Lalu apa yang keliru dari model pendidikan kita?
Rupanya dari kisah omdi ini kutemukan beberapa jawaban. Jawabannya adalah Rasa Keikhlasan dalam mendidik. Nampak sederhana namun sangat mendalam. Selama ini kita sebagai pengajar selalu berorientasi pada materi. Mengajar adalah sebuah pekerjaan, dan pekerjaan harus mendapat upah yang layak. Coba kita bandingkan dengan guru ngaji kita ini yang bahakan tidak digaji. Beliau mendidik dan mengajar dengan landasan keikhlasan.
Suatu ketika saya bermaksud mengusulkan Honor beliau kepada kemenag. Karena memang di kabupaten Malinau Ustazd mendapat honor bulanan, namun pada kenyataannya beliau berkata “wah nanti saya pamrih dan tidak ikhlas lagi dong”. Sebuah jawaban sederhana yang membangunkan nurani kita sebagai Guru. Mendidik harus dari hati, bukan hanya menagajarkan ilmu saja, namun rupanya untuk membuat seseorang menjadi baik adalah hati dan keikhlasan yang lebih didahulukan bukan mengejar kepintaran anak.
Sebuah pelajaran kecil berharga, bahwa mengajarlah dari hati. Mengajar itu membuat orang pintar, namun jika hati ikut mendidik maka bukan hanya pintar tapi benar.
Oleh : Imam Aji Subagyo
